MAKALAH POTRET KEBIJAKAN MONETER INDONESIA


STRATEGI KEBIJAKAN MONETER







RAIHANAH
1794041015

KELAS A(01)
PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2019


KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Senantiasa kami haturkan Kepada Allah Subhana Wa Ta’ala yag telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kami. Diantara Begitu banyak nikmat tersebut diantaranya, nikmat Iman yang alhmadulillah masih masih kami rasakan, nilmat Islam yang In Syaa Allah masih tertancap tajam pada dada kami. dan terlebih iyalah nikmat Kesempatan yang masih Allah titipkan kepada kami, sehingga kami mampu untuk menyelesaikan penyusunan makalah kami dengan judul ” Startegi Kebijakan Moneter”. Tanpa pertolongan-Nya tentu kami tidak akan mampu untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasul kita, Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya dan juga kendala-kendala dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, dapat lebih baik kedepannya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Makassar, 9 Oktober 2019

Raihanah








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian kebijakan Moneter
B. Tujuan Kebijakan Moneter
C. Jenis-jenis Kebijakan Moneter

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA















BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Krisis keuangan dan moneter yang terjadi pada medio 1997/1998 lalu telah banyak mendorong reformasi di bidang ekonomi, termasuk reformasi dalam strategi kebijakan moneter yang diarahkan untuk mengemban amanat pencapaian target stabilitas harga. Secara singkat, sejak 2001 (dan mulai intensif dilaksanakan pada 2005) kebijakan moneter dikonsentrasikan untuk meraih sasaran tunggal, yakni mengendalikan inflasi (inflation targeting/IT).
Dalam perkembangan sejarah peradaban mansia, peranan uang dirasakan sangat penting. Hamper tidak ada satupun bagian dari kehidupan ekonomi manusia yang tidak terkait dengan keberadaan uang. Pengalaman menunjukkan bahwa jumlah uang yang beredar di luar kendali dapat menimbulkan konsekuensi atau pengaruh buruk dari kurang terkenalinya perkembangan jumlah uang yang beredar tersebut antara lain dapat dilihat pada kurang terkendalinya variabel- variabel ekonomi utama, yaitu tingkat produksi (output) dan harga.
Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebih dapat mendorong peningkatan harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya apabila pengkatan jumlah uang yang beredar sangat rendah, maka kelesuan ekonomi akan terjadi. Apabila hal ini berlangsung terus menerus, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan pada gilirannya akan mengalami penurunan. Kondisi tersebut mela tar belakangi upaya-upaya / strategi yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengendalikan jumlah uang yang beredar tersebut lazimnya disebut dengan kebijakan moneter, yang pada dasarnya merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi makro yang ditempuh oleh otoritas moneter.    


B.  Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian Strategi Kebijakan Moneter?
2.    Jelaskan Tujuan Kebijakan Moneter!
3.    Jelaskan jenis-jenis Strategi Kebijakan Moneter!

C.  Tujuan Masalah
1.    Mendeskripsikan pengertian Strategi Kebijakan Moneter.
2.    Mendeskripsikan tujuan kebijakan moneter.
3.    Mendeskripsikan jenis-jenis Strategi Kebijakan Moneter.

































BAB II
PEBAHASAN


1.    Pengertian Strategi Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilias harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang.
Kebijakan moneter adalah salah satu elemen kebijakan ekonomi tidak terlepas dari kesulitan yang dalam mengakomodasi berbagai sasaran kebijakan secara serentak. Kesulitan tersebut telah berlangsung sejak periode sebelum krisis dan akhirnya berdampak negatif terhadap kondisi fundamental ekonomi makro, di mana sebelumnya kondisi makroekonomi berdasarkan hasil pengamatan dianggap cukup kuat ternyata tidaklah sekuat yang diyakini semula. Sebagai salah satu instrumen kebijakan ekonomi makro, kebijakan moneter memiliki peran yang sangat penting dalam penyelesaian krisis ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia. Apalagi mengingat bahwa krisis ini telah berkembang menjadi fenomena yang dikenal sebagai financial distress, yaitu proses demonetisasi berupa penurunan permintaan akan likuiditas perekonomian sebagai akibat meningkatnya permintaan akan uang kartal. Apabila dibiarkan terus berlanjut, proses ini akan menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pemicu terjadinya fenomena flight to currency yang begitu tiba-tiba adalah ketidak pastian nilai tukar rupiah (McNelis, 1988). Oleh karena itu, upaya pemulihan ekonomi sangat tergantung kepada ketepatan strategi kebijakan moneter yang diambil, khususnya dalam rangka mengembalikan kepastian nilai tukar.
Strategi kebijakan moneter merupakan bagian dari kebijakan makro yang bertujuan untuk mengendalikan stabilitas nilai mata uang. Apabila stabilitas kegiatan ekonomi terganggu, maka salah satu kebijakan yang bisa digunakan adalah kebijakan moneter untuk memulihkannya dengan serangkaian tindakan stabilisasi. Ada beberapa penyebab kegagalan dalam pengendalian stabilitas nilai uang yaitu adanya ketidakstabilan pengganda uang (money multipler), velositas jumlah uang yang beredar (velocity of money) sampai dengan perubahan paradigma mekanisme transmisi kebijakan moner.   
Kebijakan moneter yang ditempuh otoritas moneter sangat beragam tergantung pada target akhir yang ingin dicapai dan kondisi ketika kebijakan itu diambil. Kondisi yang dimaksud sangat beragam pula. Di Indonesia, strategi kebijaka moneter juga dipengaruhi oleh kondisi kelembagaan pendukung evektifitas kebijakan moneter yang masih dalam taraf pengembangan, tingkat moneterisasi perekonomian masih relative rendah, tingkat penggunaan jasa perbankan yang relative rendah, dan banyak factor lain yang berpengaruh.
Paradigma baru ini telah ditegaskan dalam UU No. 23 Tahun 1999 dan amandemen UU No. 3 Tahun 2004 sebagai landasan penerapan kerangka kerja infasi targeting di Indonesia. Kerangka kerja tersebut menyebutkan bahwa sasaran akhir kebijakan moneter adalah tercapainya kestabilan nilai rupiah. Sasaran inflasi ditetapkan dengan memperhatikan kondisi makro, proyeksi arah pergerakan ekonomi dan pertimbangan kerugian sosial (social welfare) sebagai akibat adanya kebijakan yang telah dilakukan. Selain itu kerangka kerja targeting inflasi diharapkan dapat menciptakan tingkat inflasi rendah dan stabil yang menunjang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, sedangkan dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh teknologi, tingkat produktivitas, pertumbuhan angkatan kerja dan iklim yang kondusif (Hutabarat, 2000). Kebijakan moneter targeting inflasi di banyak negara telah mempu menurunkan inflasi dan menjaga stabilitas harga pada tingkat yang ditetapkan, namun di Indonesia penerapannya masih belum memuaskan kenerjanya (Ismail, 2006).



2.    Tujuan Kebijakan Moneter
1.    Menjaga stabilitas ekonomi
Melalui jumlah pengendalian uang yang beredar oleh bank sentral (BI) sesuai dengan kebutuhan masyarakat, akan terciptanya suatu keadaan perekonomian yang stabil. Perekonomian yang stabil adalah suatu kondisi perekonomian yang stabil. Perekonomian yang stabil merupakan kondisi perekonomian yang menjamin pertumbuhan ekonomi secara mantap dan berkelanjutan. Dengan kata lain, arus perputaran barang dan arus perputaran uang berjalan secara seimbang dan terkendali.
2.    Menjaga kestabilan harga
Jumlah uang yang beredar dimasyarakat sangat mempengaruhi tingkat harga-harga yang berlaku. Dengan adanya pengaturan jumlah uang yang beredar melalui kebijakan moneter oleh ban sentral, tingkat harga dari waktu ke waktu terkendali. Apabila tingkat harga stabil, masyarakat akan percaya bahwa membeli barang pada masa sekarang akan sama dengan harga membeli barang pada masa yang akan dating.
3.    Meningkatkan kesempatan kerja
Dengan adanya pengaturan jumlah uang yang beredar secara terkendali, diharapkan perekonomian lebih stabil. Jika perekonomian stabil, para investor tidak akan ragu-ragu meningkatkan jumlah produksi, mengembangkan investasi-investasi baru, dan membuka lapangan kerja baru sehingga terjadi peningkatan kesempatan kerja.
4.    Memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran luar negeri.
Melalui kebijakan moneter, pemerintah juga dapat memperbaiki neraca perdagangan luar negeri menjadi surplus. Apabila pemerintah melakukan devaluasi, maka harga-harga barang bantuan dalam negeri jika dibeli dengan mata uang asing, akan menjadi lebih murah. Sehingga barang Indonesia dapat bersaing dipasar luar negeri dan akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia.


3.    Jenis-Jenis Strategi Kebijakan Moneter
1.    Kebijakan Longgar Ketat
Secara umum, kebijakan moneter pada dasarnya dapat dibedakan antara kebijakan moneter longgar (easy monetary policy) dan kebijakan moneter ketat (tight monetary policy).
a.    Kebijakan moneter longgar.
Kebijakan moneter longgar pada umumnya ditempuh untuk mengatasi kelesuhan perekonomian dalam negeri. Dengan penambahan jumlah uang yang beredar, diharapkan kegiatan perekonomian dapat didorong. Namun bagi negara-negara yang menganut system perekonomian terbuka dan system devisa bebas, kebijkan moneter longgar dapat memberikan tekanan terhadap neraca pembayaran. Hal ini terjadi apabila pengkatan jumlah uang yang beredar mengakibatkan kenaikan inflasi di dalam negeri sehingga menurunkan daya saing produksi dalam negeri terhadap impor dan daya saing barang ekspor di pasar internasional.
Disamping itu, apabila kebijakan moneter longgar tersebut menyebabkan suku bunga rill dalam negeri menjadi rendah dibandingkan dengan suku bunga rill negara lain, hal ini dapat mengakibatkan aliran modal keluar negeri, yang pada gilirannya akan menambah tekanan pada neraca pembayaran.
b.      Kebijakan moneter ketat.
Kebijakan monetet ketat, dilakukan terutama untuk menjaga kestabilan harga. Selain itu, apabila suatu negara mengalami tekanan dalam neraca pembayaran, kebijakan moneter tersebut dapat membantu mengatasi masalah neraca pembayaran yang dihadapi.
Hal ini terjadi jika kebijakan moneter tersebut dapat menekan inflasi sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan daya saing barang-barang produk dalam negeri terhadap barang-barang impor dan daya saing barang ekspor di pasar Internasional. Selain itu, penurunan tingkat inflasi dapat meningkatkan suku bunga rill dalam negeri sehingga dapat mencegah pengaliran modal ke luar negeri.
Di bidang moneter, ditempuh kebijakan moneter untuk mengurangi penurunan atau depresiasi nilai mata uang lokal yang berlebihan, yaitu kebijakan moneter yang ketat.
Dilemma dalam menentukan kebijakan moneter, timbul bagi negara yang sekaligus mengadapi kelesuhan perekonomian dalam negeri dan mengalami tekanan yang berat pada neraca pembayaran. Kebijakan moneter longgar untuk mengatasi kelesuan perekonomian dalam negeri dikhawatirkan semakin meneka neraca pembayaran, dan sebaliknya kebijakan moneter ketat untuk mengatasi neraca pembayaran dikhawatirkan semakin mempertajam kelesuhan perekonomian dalam negeri.s

2.    Countercyclical Vs Accomodative.
Sebagai akibat dari kegiatan ekonomi, dilihat dari kaca mata moneter, kegiatan ekonomi yang lesu akan mengakibatkan menurunnya permintaan masyarakat akan uang (demaind for money) untuk kepentingan transaksi. Sebaliknya pada masa boom, permintaan masyarakat akan uang untuk keperluan transaksi akan meningkat.
Dalam mengahdapi gejolak perekonomian seperti tersebut kalangan ahli meneter terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai strategi kebijakan moneter yang perlu ditempuh oleh otoritas moneter.
a.    Countercyclical
. Kebijakan moneter diindikasikan berkarakter countercyclical apabila central bank policy rate lebih tinggi (lebih rendah) dan pertumbuhan JUB lebih rendah (lebih tinggi) pada saat ekspansi (resesi) kali. Kebijakan countercyclical cenderung untuk menstabilkan siklus bisnis karena moneter kontraktif pada saat ekspansi dan ekspansif pada saat resesi.
Kebijakan moneter diindikasikan berkarakter procyclical apabila central bank policy rate lebih rendah (lebih tinggi) dan pertumbuhan JUB lebih tinggi (lebih rendah) pada saat ekspansi (resesi) kali. Kebijakan countercyclical  cenderung untuk menstabilkan  siklus bisnis  karena moneter kontraktif pada saat ekspansi dan ekspansif pada saat resesi. Sementara itu karakter kebijakam moneter acyclical, apabila pergerakan central bank policy rate dan pertumbuhan JUB  tidak secara sitematis berhubungan siklus bisnis sehingga korelasinya nol.
Pada saat perekonomian akan mengalami resesi, otoritas moneter harus menempuh kebijakan moneter yang bersifat ekspansif, yaitu meningkatkan jumlah uang yang beredar sehingga ekspansi moneter tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasrat masyarakat berkonsumsi dan berproduksi.
Kenaikan konsumsi dan produksi/ investasi tersebut selanjutnya akan meningkatkan kegiatan perekonomian yang pada akhirnya dapat menghindarkan perekonomian, dari cengkraman resesi. Sebaliknya dalam  menghadapi boom, otoritas moneter harus melakukan kontraksi moneter, yaitu dengan harapan dapat memperlambat kegiatan perekonomian sehingga perekonomian akan terhindar dari tekanan inflasi.
b.    Accommodative monetary Policy
Kebijakan moneter diarahkan untuk mengatur uang yang beredaryang jumlahnya konsisten dengan pertumbuhan ekonomi dan membiarkan siklus bisnis berjalan secara wajar dan almiah. Dengan kata lain, baik pada saat resesi atau boom, pertumbuhan uang yang beredar hendaknya tetap dipertahankanpada suatu tingkat tertentu yang dapat menunjang sasaran jangka panjang yaitu pertumbuhan ekonomi.
3.    Efektifitas Kebijakan Moneter.
a.    Natural rate hypothesis dan rational expectation hypothesis.
Setiap keputusan ekonomi tak pelak lagi akan melibatkan unsur waktu. Dengan demikian, ketika keputusan-keputusan ekonomi itu diintegrasikan sebagai sebuah kesatuan guna membentuk model makroekonomi yang lengkap , maka implikasi-implikasi kebijakan serta karateristik umum dari model yang bersangkutan itu menjadi sangat bergantung pada presisi atau tingat ketepatan dari penetapan unsur-unsur ekspektasi yang terlibat di dalamnya . Dengan kata lain, analisis makroekonomi yang andal seyogianya telah mencakup suatu cara atau mekanisme membentuk model ekspektasi serta memperhitungkan bagaimana perubahan ekspektasi yang bersangkutan itu akan memberikan pengaruh balik atau feed back kepada unsur-unsur perilaku ekonomi yang dianalisis.
Teori natural rate hypothesis berpendapat bahwa kebijakan moneter hanya efektif dalam jangka pendek dan menjadi tidak efektif untuk jangka panjang. Adapun rational expectation hypothesis berpendapat bahwa kebijakan moneter tidak efektif baik dalam jangka pendek maupun dalam janga waktu panjang.
b.    Perbedaan pandangan.
Menurut Natural Rate Hypothesis, efektivitas ekspektasi moneter tersebut hanya efektif dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang kegiatan produksi dan kesempatan kerja yang semula meningkat dan meluas akan kembali menurun sampai ketingkat semula. Hal ini disebabkan karena dalam jangka panjang masyarakat mulai sadar bahwa upah rill yang mereka terima sebenarnya mengalami penurunan karena kenaikan upah nominal lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga-harga.
Apabila upah rill tidak berubah, masyarakat tidak bersedia meningkatkan penawaran tenangnya sehingga kebijakan moneter tidak akan membawa dampak perluasan produksi/kesempatan kerja, tetapi justu hanya mengakibatkan inflasi.produsen juga sadar bahwa kenaikan harga barang-barang produksi mereka tidak akan memberikan suatu keuntungan tambahan karena ongkos-ongkos produksi, terutama tenaga kerja juga mengalami kenaikan yang sama besar.

4.     Keterkaitan Kebijakan Moneter dengan Kebijakan Makro Lain.
Penerapan kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara terpisah dengan penerapan kebijakan ekonomi makro lainnya, seperti kebijakan fiskal, kebijakan sektor riil, dan lain-lain. Hal ini terutama mengingat keterkaitan antara kebijakan moneter  dan bagian kebijakan ekonomi makro lain yang sangat erat. Selain itu, pengaruh kebijakan-kebijakan yang diterapkan secara bersama-sama mungkin mempunyai arah yang bertentangan sehingga saling memperlemah. Misalnya, dalam perekonomian yang mengalami tekanan inflasi, bank sentral melakukan pengetatan moneter. Pada saat yang bersamaan, pemerintah melakukan ekspansi di sektor fiskal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketidakharmonisan kedua kebijakan tersebut dapat mengakibatkan tujuan menekan inflasi tidak tercapai. Sementara itu, kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang terlalu ekspansif akibat tidak adanya koordinasi dapat mendorong pemanasanan kegiatan perekonomian. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan kebijakan ekonomi makro secara optimal, biasanya diterapkan policy mix ‘bauran kebijakan’  yang terkoordinasi antara-satu kebijakan dengan kebijakan lain.
Pengertian optimal disini adalah pencapaian tujuan antar-kebijakan dapat dikoordinasikan sehingga tidak menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan bagi pencapaian tujuan kebijakan ekonomi makro secara keseluruhan. Salah satu contoh penerapan bauran kebijakan yang banyak dikenal adalah bauran kebijakan moneter-fiskal (monetary-fiscal policy mix). Secara konseptual, koordinasi bauran kebijakan moneter-fiskal dapat dilakukan melalui beberapa skenario, yaitu: (1) kebijakan moneter ekspansif/ kebijakan fiskal ekspansif, (2) kebijakan moneter kontraktif/ kebijakan fiskal ekspansif, (3) kebijakan moneter ekspansif/ kebijakan fiskal kontraktif, dan (4) kebijakan moneter kontraktif/ kebijakan fiskal kontraktif.
Sebagai contoh, apabila bauran kebijakan moneter-fiskal dapat dilakukan secara terkoordinasi, maka skenario kebijakan 1 dan 4 merupakan skenario kebijakan yang paling efektif diterapkan untuk tujuan kebijakan yang bersifat counter-cyclical seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dalam pengamatan empiris dapat dilihat bahwa apabila perekonomian mengalami resesi yang berkepanjangan, kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama ekspansif dan dikoordinasikan sangat tepat untuk mendorong kegiatan ekonomi dengan pengaruh yang moderat pada perkembangan suku bunga. Sejalan dengan itu, kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama kontraktif dan dikoordinasikan sangat bermanfaat bagi upaya untuk mengurangi laju ekspansi kegiatan perekonomian.
Sementara itu, skenario kebijakan 2 dan 3 akan menghasilkan pengaruh yang saling meniadakan, dan hasil akhirnya sangat tergantung pada kekuatan pengaruh relatif antara kebijakan moneter dan fiskal. Secara empiris, kombinasi kebijakan moneter ekspansif  dan  kebijakan fiskal kontraktif belum banyak diamati. Namun, untuk kombinasi kebijakan moneter kontraktif dan kebijakan fiskal ekspansif, bukti empiris menunjukkan bahwa skenario kebijakan ini cenderung mendorong peningkatan suku bunga keseimbangan pasar sehingga dapat menghambat kegiatan investasi oleh masyarakat.

5.    Pengaruh Eksternal terhadap Kebijakan Moneter.
Perekonomian dunia sedang berubah menghadapi setidaknya tiga fenomena perubahan. Pertama adalah fenomena perubahan yang ditandai oleh semakin terintegrasinya pasar modal dan keuangan serta perdagangan. Perubahan kondisi moneter internasional ditransmisikan ke dalam perekonomian suatu negara melalui sistem finansial dan perdagangan. Dalam kasus yang ekstrim, hubungan ketergantungan tersebut ditunjukkan oleh adanya krisis di suatu negara merembet ke negara lain. Sebagai contoh, krisis keuangan di Amerika Serikat pada tahun 2008 memicu terjadinya krisis finansial dunia. Kedua adalah fenomena perubahan yang ditandai oleh lompatan kenaikan harga minyak mentah dunia (MMD).
Pengaruh kebijakan makroekonomi dan faktor eksternal ekonomi terhadap perekonomian suatu negara dapat melalui beberapa saluran. Terdapat empat saluran transmisi yang umum dipahami, yaitu: (1) saluran suku bunga, (2) saluran kredit, (3) saluran harga asset, dan (4) saluran nilai tukar (Norrbin, 2000; Ireland, 2006). Untuk mendeteksi pengaruh perubahan moneter terhadap harga dan perekonomian penting memahami apakah melalui jalur finansial atau jalur neraca perdagangan. Mekanisme transmisi moneter pada intinya menjelaskan bagaimana perubahan stok uang yang disebabkan oleh kebijakan moneter atau dampak suku bunga jangka pendek pada peubah riel, seperti agregat dan penyerapan tenaga kerja (Ireland, 2006).
Pengaruh faktor eksternal ekonomi yakni suku bunga Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia juga dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep NIAI tetapi dengan memasukkan konsep keseimbangan eksternal ekonomi. Dalam hal ini, keseimbangan eksternal ekonomi dinyatakan dengan mengendogenkan peubah nilai tukar Rupiah (Rupiah/US$). Keseimbangan nilai tukar Rupiah dipengaruhi antara lain secara negatif oleh perbedaan suku bunga dalam negeri dan Amerika Serikat dan juga secara negatif oleh ekspor bersih. Ekspor bersih dipengaruhi antara lain secara positif oleh nilai tukar Rupiah, dan secara negatif oleh harga minyak mentah dunia . Dengan demikian, dengan asumsi faktor-faktor lain tidak berubah, kenaikan atau penurunan suku Amerika Serikat akan mendepresiasi (menaikkan) atau mengapresiasi (menurunkan) nilai tukar Rupiah. Depresiasi atau apresiasi nilai tukar Rupiah akan menaikkan atau menurunkan ekspor bersih. Dari konsep NIAI diketahui bahwa kenaikan atau penurunan ekspor bersih akan menaikkan atau menurunkan PDB.










































BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kebijakan moneter adalah salah satu elemen kebijakan ekonomi tidak terlepas dari kesulitan yang dalam mengakomodasi berbagai sasaran kebijakan secara serentak. Kesulitan tersebut telah berlangsung sejak periode sebelum krisis dan akhirnya berdampak negatif terhadap kondisi fundamental ekonomi makro, di mana sebelumnya kondisi makroekonomi berdasarkan hasil pengamatan dianggap cukup kuat ternyata tidaklah sekuat yang diyakini semula. Sebagai salah satu instrumen kebijakan ekonomi makro, kebijakan moneter memiliki peran yang sangat penting dalam penyelesaian krisis ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia.

B.     Saran
 Dalam pelaksaan dari kebijakan moneter perlu adanya keseimbangan dalam berbagai aspek variable ekonomi sehingga kestabilan ekonomi dapat terwujud. Dan diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan pembaca mengenai Strategi kebijakan ekonomi itu sendiri.












DAFTAR PUSTAKA
Pohan, Aulia.2017. Potret Kebijakan Moneter Indonesia (Seberapa Jauh Kebijakan Moneter Mewarnai Perekonomian Indonesia). Rajawali Pers. Depok.
Aulia falianty, Telisa. 2019. Teori Ekonomi Makro dan Penerapannya di Indonesia rajawali Pers. Depok.
Warjiyo, Perry. Solikin. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. BI. Jakarta.
Sahirul Alim, Muhammad. 2014. Karakter Kebijakan (Procyclical Vs Countercyclical) dan Stabilitas Makroekonomi. Fakultas Ekonomika Dan Bisnis. Universitas Diponegoro. Semarang.
Azhary Saleh, Irsan. 1993. Hipotesis Ekspektasi Rasional Konsep Dasar, Urgensi, dan Relevansi Kebijakan. Vol 41. http:// www. lpem. Org /repec /lpe /efijnl /199307. pdf.7 okt 2019.
Astana, Satria. dkk. 2012. Dampak Kebijakan Makroekonomi Dan Faktor Eksternal Ekonomi Terhadap Laju Deforestasi Dan Degradasi Hutan Alam. Vol 9. http: //ejournal. Forda –mof. Org /ejournal –litbang /index. Php /JAKK/article/view/310. 7 okt 2019.
Barik Bathaluddin, M. dkk. 2012. Dampak Persistensi Ekses Likuiditas terhadap Kebijakan Moneter. Vol 26. http:// bmebbi. Org /index. php/ BEMP/ article /view/359. 7 okt 2019.
Sriyono. 2013. Starategi Kebijakan Moneter di Indonesia. vol 1. http://ojs.umsida.ac.id/index.php/jkmp/article/download/415/342. 7 okt 2019.
Sabirin, Syahril. 2000. Upaya Pemulihan Ekonomi Melalui Strategi Kebijakan Moneter – Perbankan Dan Independensi Bank Indonesia. https://www.bi.go.id/id/publikasi/lain/kertas-kerja/ Documents /37b7108 ef 88b4 c72a2f5a9cfa26421 begubfeb022000.pdf.  9 okt 2019.
Erani Yustika, Ahmad., Heni Sulistiani, Eka. 2010. Kebijakan Moneter, Sektor Perbankan, dan Peran Badan Supervisi. Vol. 14. http://jurnal. unmer.ac.id /index. php/jkdp/article/view/986. 9 okt 2019.

     
  


Comments

Popular posts from this blog